Kamis, 21 Maret 2019

ANALISIS PEREKONOMIAN DAERAH KABUPATEN GRESIK

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses di mana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut.
Masalah pokok dalam pembangunan daerah adalah terletak pada penekanan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan pada kekhasan daerah yang bersangkutan (endogenous development) dengan menggunakan potensi sumberdaya manusia, kelembagaan, dan sumberdaya fisik secara lokal (daerah). Orientasi ini mengarahkan kita kepada pengambilan inisiatif-inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses pembangunan untuk menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang peningkatan kegiatan ekonomi.
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses. Yaitu proses yang mencakup pembentukan institusi-institusi baru, pembangunan industri-industri alternatif, perbaikan kaasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar baru , alih ilmu pengetahuan, dan pengembangan perusahaan-perusahaan baru. Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah.
Dalam upaya untu mencapai tujuan tesebut. Pemerintah daerah dan masyarakatnya harus secara berama-sama mengambil inisiatif pembangunan daerah.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana gambaran umum kota Gresik?
2. Bagaimana analisis PDRB dan pendapatan per kapita kota Gresik?
3. Bagaimana analisis perubahan struktur ekonomi kota Gresik?
4. Bagaimana analisis pertumbuhan ekonomi kota Gresik?
5. Bagaimana analisis Distribusi Pendapatan dan kemiskinan kota Gresik?
6. Bagaimana analisis Pembangunan Ekonomi kota Gresik?
7. Bagaimana analisis Perkembangan sektor pertanian kota Gresik?
8. Apa permasalahan utama kondisi ekonomi di Gresik?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui gambaran umum kota Gresik.
2. Untuk mengetahui PDRB dan pendapatan per kapita kota Gresik.
3. Untuk mengetahui perubahan struktur ekonomi kota Gresik.
4. Untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi kota Gresik.
5. Untuk mengetahui Distribusi Pendapatan dan kemiskinan kota Gresik.
6. Untuk mengetahui Pembangunan Ekonomi kota Gresik.
7. Untuk mengetahui Perkembangan sektor pertanian kota Gresik.
8. Untuk mengetahui permasalahan utama kondisi ekonomi di Gresik.

1.4 Manfaat
1. Pembaca dapat mengetahui perekonomian yang ada di kota Gresik.
2. Penulis dapat menganalisis serta mengetahui perekonomian yang ada di kota Gresik.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Gambaran Umum Kondisi Daerah
1. Aspek Geografi dan Demografi
Lokasi Kabupaten Gresik terletak di sebelah Barat Laut Kota Surabaya yang merupakan Ibukota Provinsi Jawa Timur dengan luas wilayah 1.191,25 km2. Secara administratif, Kabupaten Gresik terbagi menjadi 18 Kecamatan terdiri dari 330 Desa dan 26 Kelurahan. Sedangkan secara geografis, wilayah Kabupaten Gresik terletak antara 112 sampai 113 Bujur Timur dan 7 sampai 8 Lintang Selatan merupakan dataran rendah dengan ketinggian 2 sampai 12 meter di atas permukaan air laut kecuali Kecamatan Panceng yang mempunyai ketinggian 25 meter diatas permukaan air laut.
Sebagian wilayah Kabupaten Gresik merupakan daerah pesisir pantai dengan panjang pantai 140 km, 69 km di daratan Pulau Jawa memanjang mulai dari Kecamatan Kebomas, Gresik, Manyar, Bungah, Sidayu, Ujungpangkah, dan Panceng serta 71 km di Kecamatan Sangkapura dan Tambak yang berada di Pulau Bawean.
Wilayah Kabupaten Gresik sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Madura dan Kota Surabaya, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Mojokerto, serta sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Lamongan. Peta administrasi Kabupaten Gresik sebagaimana pada gambar berikut:










Gambar 1
Peta Administrasi Kabupaten Gresik








Sumber data: Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Gresik Tahun 2016

Kabupaten Gresik merupakan kawasan yang berpotensi berkembang pesat dalam konstelansi Surabaya Metropolitan Area. Posisi Strategis Kabupaten Gresik terlihat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) dan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 5 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur 2011-2031 dimana Kawasan perkotaan yang diarahkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional di Provinsi Jawa Timur adalah Kawasan Perkotaan Gerbangkertosusila (Gresik–Bangkalan–Mojokerto–Surabaya–Sidoarjo–Lamongan).
Berikut ini gambar yang menunjukan posisi strategis Kabupaten Gresik di Provinsi Jawa Timur:

Gambar 2
Peta Kabupaten Gresik terhadap Provinsi Jawa Timur















Sumber data: Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Gresik Tahun 2016
Dilihat dari posisi geografis, Kabupaten Gresik berada pada lokasi yang sangat strategis bagi perekonomian nasional, karena terletak di selat Madura dan memiliki wilayah pesisir sepanjang 140 km. Hal ini menjadikan
Kabupaten Gresik tergabung dalam Kawasan Andalan GERBANGKERTOSUSILA (Gresik–Bangkalan–Mojokerto–Surabaya–Sidoarjo– Lamongan) dengan sektor unggulan industri, perdagangan dan jasa, pertanian, perikanan, dan pariwisata, sehingga diharapkan kawasan tersebut menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi bahkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi bagi daerah-daerah disekitarnya.

2. Topografi dan Fisiografi
Pada umumnya Ketinggian tempat di Wilayah Kabupaten Gresik berada pada 0 – 500 m diatas permukaan laut (dpl) pada elevasi terendah terdapat di daerah sekitar muara Sungai Bengawan Solo dan Kali Lamong.

Tabel 1
Luas Daerah Berdasarkan Ketinggian (Ha) Kabupaten Gresik




Ketinggian



No

Kecamatan
0 – 10
10 – 20
> 20

Jumlah



Meter dpl
Meter dpl
Meter dpl


1
Wringinanom
0,00
6.254,00
0,00
6.262,00






2
Driyorejo
0,00
5.130,00
0,00
5.130,00






3
Kedamean
6.588,00
0,00
0,00
6.596,00






4
Menganti
6.196,00
0,00
0,00
6.367,00






5
Cerme
6.126,00
0,00
0,00
6.126,00






6
Benjeng
0,00
6.862,00
0,00
6.871,00






7
Balongpanggang
7.167,00
0,00
0,00
7.167,00






8
Duduksampeyan
7.440,00
0,00
0,00
7.449,00






9
Kebomas
2.966,00
0,00
0,00
3.433,00






10
Gresik
524,00
0,00
0,00
799,00






11
Manyar
8.287,00
0,00
0,00
8.671,00






12
Bungah
8.022,00
0,00
0,00
7.936,00






13
Sidayu
4.521,00
0,00
0,00
4.521,00






14
Dukun
5.909,00
0,00
0,00
5.909,00






15
Panceng
0,00
0,00
6.318,00
6.259,00






16
Ujungpangkah
9.470,00
0,00
0,00
10.406,00






17
Sangkapura
11.872,00
0,00
0,00
11.872,00






18
Tambak
7.755,00
0,00
0,00
7.739,00









Jumlah
92.843,00
18.246,00
6.318,00

119.513,00


Prosentase
79,08
15,54
5,38

100,00










Sumber : RTRW Kabupaten Gresik 2010-2030

Distribusi wilayah di Kabupaten Gresik berdasarkan ketinggian dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Wilayah dengan ketinggian 0 –10 mdpl seluas ± 92.843,00 ha atau sekitar 79,08% dari seluruh luas     wilayah Kabupaten Gresik.
b. Wilayah dengan ketinggian 10 – 20 mdpl mempunyai luas ± 18.246,00 ha atau sekitar 15,54% .
c. Ketinggian diatas 20 mdpl mempunyai luas ± 6.318,00 ha atau sekitar 5,38%.
Adapun distribusi ketinggian wilayah Kabupaten Gresik dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 3
Peta Ketinggian Tanah Kabupaten Gresik







Sumber data : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Kab. Gresik Tahun 2014

Kondisi topografi pada Kabupaten Gresik bervariasi pada kemiringan 0 – 2%, 3 – 15%, dan 16 – 40% serta lebih dari 40 %. Sebagian besar mempunyai kemiringan 0 - 2% mempunyai luas  94.613,00 ha atau sekitar 80,59 %, sedangkan wilayah yang mempunyai kemiringan lebih dari 40 % lebih sedikit  1.072,23 ha atau sekitar 0,91 %. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.2 sebagai berikut.

Tabel 2
Luas Daerah Berdasarkan Kelerengan (Ha) Kabupaten Gresik

No


Kecamatan







Lereng







Jumlah






















0 - 2 %



3 - 15 %


16 - 40 %


>40 %



































1

Wringinanom
3.968,00

2.286,00



0,00
0,00


6.262,00















2

Driyorejo
4.680,00

450,00



0,00
0,00


5.130,00















3

Kedamean
5.684,00

904,00



0,00
0,00


6.596,00















4

Menganti
6.196,00

0,00



0,00
0,00


6.367,00















5

Cerme
6.126,00

0,00



0,00
0,00


6.126,00

















6

Benjeng
6.862,00

0,00



0,00
0,00


6.871,00















7

Balongpanggang
7.167,00

0,00



0,00
0,00


7.167,00















8

Duduksampeyan
7.440,00

0,00



0,00
0,00


7.449,00















9

Kebomas
2.409,00

518,00



39,00
0,00


3.433,00















10

Gresik
524,00

0,00



0,00
0,00


799,00


























11

Manyar
8.197,00

90,00

0,00
0,00

8.671,00















12

Bungah
8.022,00

0,00

0,00
0,00

7.936,00















13

Sidayu
4.521,00

0,00

0,00
0,00

4.521,00















14

Dukun
5.909,00

0,00

0,00
0,00

5.909,00















15

Panceng
3.897,00

2.324,00

72,00
25,0

6.259,00


















0





16

Ujungpangkah
8.063,00

972,00

243,00
192,00

10.406,00















17

Sangkapura
4.805,00

2.050,34

4.216,68
799,98

11.872,00















18

Tambak
143,00

2.656,94

4.899,81
55,25

7.739,00





























Jumlah



94.613,0


12.251,28


9.470,49


1072,23


119.513,00






Prosentase



80,59


10,43


8,07


0,91


100,00









































Sumber : RTRW Kabupaten Gresik 2010-2030

Berdasarkan data di atas, dijelaskan bahwa mayoritas daratan Gresik berada pada kelerengan 0-2% dengan luas wilayah sebesar 94.613 Ha (80.59%) sedangkan presentase terkecil berada pada kelerengan lebih dari 40% dengan luas 1072 Ha yang tersebar pada Kecamatan Ujungpangkah dan 2(dua) kecamatan di Pulau Bawean yaitu Tambak dan Sangkapura.

3.  Hidrologi
Keadaan permukaan air tanah di Wilayah Kabupaten Gresik pada umumnya relatif dalam, hanya daerah-daerah tertentu di sekitar sungai atau rawa-rawa saja yang mempunyai pemukaan air tanah agak dangkal.
Pola aliran sungai di Kabupaten Gresik memperlihatkan wilayah Gresik merupakan daerah muara Sungai Bengawan Solo dan Kali Lamong dan juga dilalui oleh Kali Surabaya di Wilayah Selatan. Sungai-sungai ini memiliki sifat aliran dan kandungan unsur hara yang berbeda. Sungai Bengawan Solo mempunyai debit air yang cukup tinggi dengan membawa sedimen lebih banyak dibandingkan dengan Kali Lamong, sehingga pendangkalan di Sungai Bengawan Solo lebih cepat. Dengan adanya peristiwa tersebut mengakibatkan timbulnya tanah-tanah oloran yang seringkali oleh penduduk dimanfaatkan untuk lahan perikanan.
Selain dialiri oleh sungai-sungai tersebut diatas keadaan hidrologi Kabupaten Gresik juga ditentukan oleh adanya waduk, embung, mata air, pompa air dan sumur bor.

Gambar 4
Peta Sungai dan Waduk Kabupaten Gresik








Sumber data : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Kab. Gresik Tahun 2015

4. Klimatologi
Seperti halnya kondisi Jawa Timur lainnya, di wilayah Kabupaten Gresik mempunyai kondisi iklim yang hampir sama. Iklim Kabupaten Gresik termasuk tropis dengan temperatur rata-rata 28,5°C dan kelembaban udara rata-rata 2.245 mm per tahun.
Temperatur minimum terjadi pada bulan Juli sedangkan temperatur tertinggi terjadi pada bulan Oktober. Radiasi matahari terbesar 84 % terjadi pada bulan Maret, kecepatan angin berkisar antara 4-6 per detik dengan arah rata-rata ke Selatan. Iklim daerah Kabupaten Gresik dibedakan menjadi :
a. musim kering terjadi pada bulan Juni sampai dengan Bulan September;
b. musim penghujan basah terjadi pada bulan Desember sampai dengan bulan Maret;
c. musim peralihan dari musim kemarau sampai musim penghujan terjadi pada bulan Oktober dan November; dan
d. musim peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau terjadi pada bulan April dan Mei.

2.2 Analisis PDRB dan Pendapatan Perkapita
Nilai PDRB Gresik atas dasar dasar harga berlaku 2010 pada tahun 2017 mencapai 118,62 triliun rupiah. Secara nominal, nilai PDRB ini mengalami kenaikan sekitar 10.75 triliun rupiah dibandingkan dengan tahun 2016 yang mencapai 107.88 triliun rupiah. Naiknya nilai PDRB ini dipengaruhi oleh meningkatnya produksi di seluruh lapangan usaha dan adanya inflasi.
Berdasarkan harga konstan 2010, angka PDRB juga mengalami kenaikan, dari 85,85 triliun rupiah pada tahun 2016 menjadi 90,86 triliun rupiah pada tahun 2017. Hal ini menunjukkan selama tahun 2017 Gresik mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 5,83 persen, lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan PDRB ini murni disebabkan oleh meningkatnya produksi di seluruh lapangan usaha, tidak dipengaruhi inflasi.
Nilai PDRB per kapita Gresik atas dasar harga berlaku sejak tahun 2013 hingga 2017 senantiasa mengalami kenaikan. Pada tahun 2013 PDRB per kapita tercatat sebesar 67,76 juta rupiah. Secara nominal terus mengalami kenaikan hingga tahun 2017 mencapai 92,31 juta rupiah. Kenaikan angka PDRB per kapita yang cukup tinggi ini disebabkan masih dipengaruhi oleh faktor inflasi.

Tabel 3
Produk Domestik Regional Bruto dan PDRB Perkapita Kabupaten Gresik, 2013-2017


Nilai PDRB/GRDP (Milliar Rupiah/Billion rupiahs)











2013
2014
2015
2016
2017











- ADHB/ at current price

83.153
93.798
100.724
107.877
118.624











- ADHK/ at 2010 Constant Price

71.314
76.336
81.380
85.850
90.856














PDRB per Kapita/Per Capita GRDP (Ribu Rupiah/Thousand rupiahs)


- ADHB/ at current price

67.763,8
75.545,0
80.174,1
84.895,3
92.313,3











- ADHK/ at 2010 Constant Price

58.116,0
61.481,4
64.777,2
67.561,2
70.703,8











- Pertumbuhan PDRB per Kapita ADHK 2010/

4,71
5,79
5,36
4,30
4,65


Growth of Per Capita GRDP at 2010 Constant Price




















Jumlah Penduduk (ribu orang)/

1.227
1.242
1.256
1.271
1.285


Population (Thousand People)



















Pertumbuhan Jumlah Penduduk (Persen)/ Population
1,27
1,18
1,18
1,15
1,13


Growth (Percent)



2.3 Analisis Perubahan Struktur Ekonomi Daerah
Selama lima tahun terakhir (2013-2017) struktur perekonomian Gresik didominasi oleh 5 (lima) kategori lapangan usaha, diantaranya: Industri Pengolahan; Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil, dan Sepeda Motor; Konstruksi; Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; terakhir adalah kategori Pertambangan dan Penggalian. Hal ini dapat dilihat dari peranan masing-masing lapangan usaha terhadap pembentukan PDRB Gresik.
Peranan terbesar dalampembentukan PDRB Gresik pada tahun 2017 dihasilkan oleh  lapangan  usaha Industri Pengolahan, yaitu mencapai 47,95 persen  (angka  ini  menurun dari  48,06 persen   di   tahun   2013). Selanjutnya lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil, dan Sepeda Motor sebesar  12,90  persen  (naik  dari  11,50 persen  di  tahun  2013),  disusul  oleh  lapangan  usaha Konstruksi  sebesar  9,71 persen  (naik  dari  7,96  persen  di  tahun 2013).   Berikutnya lapangan usaha Pertanian,  Kehutanan, dan Perikanan sebesar 8,27 persen (membaik dari 7,58 persen di tahun 2013) dan lapangan usaha Pertambangan  dan Penggalian sebesar 7,60 persen.

Tabel 4
Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto Gresik Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha, 2013─2017




Lapangan Usaha/Industry

2013

2014


2015


2016*

2017**




(1)
(3)
(4)

(5)

(6)
(6)


A

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan/ Agriculture,
7,58
7,73

8,21

8,38
8,27



Forestry and Fishing






























B
Pertambangan dan Penggalian/Mining and Quarrying
12,32
12,22

8,71

7,02
7,60
















C

Industri Pengolahan/Manufacturing
48,06
48,21

49,22

48,73
47,95

















D
Pengadaan Listrik dan Gas/Electricity and Gas
0,44
0,44

0,46

0,47
0,51


















Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan

0,06

0,06


0,06


0,06

0,06


E

Daur Ulang/Water supply, Sewerage, Waste


























Management and Remediation Activities














F
Konstruksi/Construction
7,96
8,26

8,81

9,47
9,71


















Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan

11,50

11,32


12,10


12,86

12,90


G

Sepeda Motor/Wholesale and Retail Trade; Repair of


























Motor Vehicles and Motorcycles














H
Transportasi dan Pergudangan/Transportat on and
2,16
2,20

2,30

2,36
2,37


Storage






























I

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum/
1,07
1,12

1,22

1,32
1,34



Accommodation and Food Service Activities






























J
Informasi dan Komunikasi/Information and
3,63
3,43

3,63

3,82
3,85


Communication






























K

Jasa Keuangan dan Asuransi/Financial and
1,07
1,06

1,13

1,19
1,17



Insurance Activities






























L
Real Estat/Real Estate Activities
1,16
1,11

1,18

1,23
1,22
















M,N

Jasa Perusahaan/Business Activities
0,27
0,26

0,27

0,28
0,28



















Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan
1,28
1,15

1,21

1,27
1,24


O
Sosial Wajib/Public Administration and Defence;




















Compulsory Social Security














P

Jasa Pendidikan/Education
0,82
0,80

0,83

0,86
0,85

















Q
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial/Human Health
0,35
0,35

0,37

0,38
0,38


and Social Work Activities






























R,S,T,U

Jasa lainnya/Other Services Activities
0,26
0,27

0,29

0,30
0,29

















Produk Domestik Regional Bruto/Gross Regional Domestic
100,00
100,00

100,00

100,00
100,00

Product


























































2.4 Analisis Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Berdasarkan harga konstan 2010, nilai PDRB Gresik pada tahun 2017 meningkat. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya produksi di seluruh lapangan  usaha yang  sudah  bebas dari pengaruh  inflasi. Nilai  PDRB Gresik atas dasar harga konstan 2010, mencapai 90,86 triliun  rupiah. Angka  tersebut  naik  dari 85,85 triliun rupiah pada tahun 2016. Hal tersebut menunjukkan bahwa selama tahun 2017 terjadi pertumbuhan ekonomi sebesar  5,83  persen,  lebih  tinggi  jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya yang mencapai 5,49 persen.
Pertumbuhan Ekonomi selama 2017 dipercepat oleh adanya investasi proyek-proyek infrastruktur seperti perbaikan jalan Tol, perbaikan saluran irigasi maupun jalan raya. Investasi tidak hanya menyentuh proyek infrastruktur, namun juga sektor pariwisata yang menyebabkan efek domino terhadap peningkatan jumlah akomodasi dan restoran karena sumber perekonomian baru telah terbentuk.
Pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Konstruksi yaitu sebesar 9,45 persen. Salah satu penyebabnya adalah perbaikan infrastruktur dan pembangunan jalan tol di tahun 2017. Dari 17 lapangan usaha ekonomi yang ada, seluruhnya mengalami pertumbuhan yang positif. Delapan lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif sebesar enam hingga sembilan persen. Sedangkan delapan lapangan usaha lainnya berturut-turut tercatat mengalami pertumbuhan positif namun lebih rendah, yaitu kurang dari enam persen.
Delapan lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan positif sebesar enam hingga sembilan persen tersebut antara lain: lapangan usaha Konstruksi sebesar 9,45 persen, lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 8,97 persen, lapangan usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 8,80 persen, lapangan usaha Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar 6,93 persen, lapangan usaha Jasa Perusahaan sebesar 6,87 persen, lapangan usaha Jasa Pendidikan sebesar 6,85 persen, lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 6,62 persen, lapangan usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 6,59 persen.
Sedangkan sembilan lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan positif kurang dari enam persen adalah lapangan usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 5,73 persen, lapangan usaha Jasa lainnya sebesar 5,43 persen, lapangan usaha Industri Pengolahan sebesar 5,31 persen, Real Estate tercatat sebesar 5,28 persen, lapangan usaha Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 5,21 persen, lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 4,46 persen, lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 4,05 persen, Pertambangan dan Penggalian sebesar 4,04 persen dan lapangan usaha Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 3,62 persen.


Tabel 5
Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2010 Gresik Menurut Lapangan Usaha (persen), 2013─2017





Lapangan Usaha/Industry

2013


2014

2015


2016*


2017**




(1)
(2)

(3)
(4)

(5)

(6)
















A


Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan/ Agriculture,
5,42

5,18
6,07

6,25

4,46




Forestry and Fishing

































B

Pertambangan dan Penggalian/Mining and Quarrying
-  6,60

9,41
5,94

2,15

4,04
































C


Industri Pengolahan/Manufacturing
7,58

6,98
5,62

4,21

5,31



















D

Pengadaan Listrik dan Gas/Electricity and Gas
7,03

7,44
-  0,55

4,86

5,21





















Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan


7,72



1,42


4,96



4,85



6,93


E


Daur Ulang/Water supply, Sewerage, Waste






























Management and Remediation Activities















F

Konstruksi/Construction
8,24

8,10
9,87

9,77

9,45





















Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan


9,47



6,66


9,19



8,09



6,62


G


Sepeda Motor/Wholesale and Retail Trade; Repair of






























Motor Vehicles and Motorcycles















H

Transportasi dan Pergudangan/Transportation and
6,64

5,90
7,57

5,35

5,73



Storage

































I


Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum/
7,45

9,10
8,75

9,54

8,97




Accommodation and Food Service Activities

































J

Informasi dan Komunikasi/Information and
12,20

6,58
6,83

8,74

8,80



Communication

































K


Jasa Keuangan dan Asuransi/Financial and

12,29


5,15

7,34


7,43


3,62




Insurance Activities

































L

Real Estat/Real Estate Activities
6,62

6,41
6,02

8,89

5,28


















M,N


Jasa Perusahaan/Business Activities
6,14

8,55
7,39

7,24

6,87






















Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan

1,84


0,20

6,43


6,02


4,05


O

Sosial Wajib/Public Administration and Defence;
























Compulsory Social Security















P


Jasa Pendidikan/Education
6,78

6,97
7,88

7,19

6,85



















Q

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial/Human Health
10,58

5,64
7,94

6,28

6,59



and Social Work Activities

































R,S,T,U


Jasa lainnya/Other Services Activities
5,54

5,09
5,85

5,18

5,43



















Produk Domestik Regional Bruto/Gross Regional Domestic
6,05

7,04
6,61

5,49

5,83

Product


















2.5 Analisis Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan 
Angka kemiskinan yang dikeluarkan BPS yaitu data kemiskinan makro, digunakan untuk kepentingan perencanaan umum dalam pengentasan warga dari kemiskinan (penduduk miskin). Data Kemiskinan Makro didasarkan pada hasil Survei Sosial Ekonomi (Susenas) pada sampel rumahtangga terpilih, sehingga nantinya akan diperoleh data Jumlah Penduduk Miskin, dengan ukuran kemiskinan yaitu penduduk yang memiliki pengeluaran per kapita per bulan masih di bawah “Garis Kemiskinan”.
Adapun dari hasil pengolahan data, diperoleh tabel Indikator Kemiskinan selama periode tahun 2013 - 2017, sebagai berikut :




Tabel 6
Indikator Kemiskinan Kabupaten Gresik, Tahun 2013-2017
Tahun Jumlah Persentase Indeks Indeks Garis Kemiskinan
Tahun
Jumlah
Persentase
Indeks
Indeks
Garis Kemiskinan
1
2
3
4
5
6
2013
174 400
14,35
2,48
0,59
306 177
2014
166 900
13,41
2,36
0,66
348 888
2015
170 800
13,63
2,58
0,67
372 661
2016
167 120
13,19
2,19
0,56
393 447
2017
164 080
12,8
2,51
0,71
414 261

Sumber: BPS Kab. Gresik
Seiring dengan kenaikan harga kebutuhan makanan dan non makanan, besaran Garis Kemiskinan di Kabupaten Gresik selama kurun waktu lima tahun terakhir selalu mengalami kenaikan. Jika pada tahun 2013 tercatat baru sebesar Rp. 306.177 per kapita per bulan maka pada tahun 2017 telah mencapai Rp.414.261 per kapita per bulan. Kenaikan besaran garis kemiskinan menunjukkan beban ekonomi yang ditanggung oleh penduduk miskin juga semakin meningkat.









Gambar 5
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik, 2013 – 2017


Sumber: BPS Kab. Gresik

Berbeda halnya dengan besaran garis kemiskinan yang selalu menunjukkan trend kenaikan, Persentase Penduduk Miskin (P0) Kabupaten Gresik selama periode 2013 – 2017 mengalami sedikit fluktuasi dengan kecenderungan menurun. Jika pada tahun 2013 tercatat sebanyak 14,35 persen penduduk Kabupaten Gresik yang berada dibawah garis kemiskinan, maka pada tahun 2014 mengalami penurunan menjadi 13,41 persen. Sempat mengalami sedikit kenaikan pada tahun 2015, dimana tercatat persentase penduduk miskin mencapai 13,63 persen, namun pada dua tahun berikutnya mengalami penurunan. Tercatat pada tahun 2017 penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan di Kabupaten Gresik tinggal 12,80 persen.

2.6 Analisis Pembangunan Ekonomi Daerah 

Tabel 7
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Gresik Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha
LAPANGAN USAHA
2013
2014
2015
2016
2017
RATA-RATA
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
4.986,43
5.244,73
5.563,34
5.910,98
6.174,86
5.576,07
Pertambangan dan Penggalian
7.797,53
8.531,41
9.038,14
9.232,39
9.605,74
8.841,04
Industri Pengolahan
34.834,08
37.267,13
39.359,84
41.018,65
43.195,65
39.135,07
Pengadaan Listrik dan Gas
417,22
448,25
445,8
467,48
491,84
454,12
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur ulang
46,4
47,06
49,39
51,79
55,38
50,00
Konstruksi
5.842,46
6.315,84
6.939,21
7.617,07
8.337,12
7.010,34
Perdagangan Besar dan Eceran
8.377,57
8.935,82
9.757,22
10.546,82
11.244,53
9.772,39
Transportasi dan Pergudangan
1.528,91
1.619,18
1.741,76
1.834,89
1.939,97
1.732,94
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum
765,69
835,35
908,41
995,09
1.084,38
917,78
Informasi dan Komunikasi
2.938,57
3.131,93
3.345,97
3.638,41
3.958,48
3.402,67
Jasa Keuangan dan Asuransi
771,52
811,26
870,8
935,51
969,38
871,69
Real Estat
891,85
949
1.006,18
1.095,63
1.153,43
1.019,22
Jasa Perusahaan
183,42
199,11
213,83
229,31
245,06
214,15
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan sosial wajib
883,88
885,65
942,57
999,33
1.039,85
950,26
Jasa Pendidikan
576,43
616,61
665,22
713,05
761,88
666,64
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial
267,74
282,84
305,29
324,46
345,84
305,23
Jasa lainnya
204,48
214,88
227,46
239,24
252,24
227,66
Produk Domestik Regional Bruto
71.314,18
76.336,05
81.380,44
85.850,11
90.855,60
81.147,28

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa yang menunjukkan sektor unggulan sebagai sektor basis di Kabupaten Gresik dari tahun 2013-2017 adalah yang nilai LQ > 1 adalah Industri Pengolahan 
Dan yang merupakan sektor non basis LQ< 1, artinya komoditasi disuatu wilayah tidak memiliki keunggulan komparatif, produksi komoditasi di wilayah itu tidak dapat memenuhi kebutuhan sendiri dan harus mendapat pasokan dari luar wilayah, di Kabupaten Gresik adalah Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur ulang, Jasa Perusahaan, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, Pengadaan Listrik dan Gas.

2.7 Analisis Perkembangan Sektor Pertanian
Kontribusi kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan terhadap PDRB Pada tahun 2017 atas dasar harga berlaku mencapai 9,81 triliun rupiah atau sebesar 8,27 persen. Subkategori usaha Perikanan merupakan kontributor terbesar dalam menciptakan nilai tambah lapangan usaha Perikanan mencapai 59,90 persen. Kontribusi subkategori Pertanian, Peternakan, Perburuan dan Jasa Pertanian menyumbang 40,07 persen di tahun 2017 sedangakan sub kategori Kehutanan dan Penebangan Kayu hanya mencapai 0,03 persen.
Pertumbuhan ekonomi pada kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan berfluktuasi selama 5 (lima) tahun terakhir. Fluktuasi tersebut terjadi karena fluktuasi yang terjadi pada subkategori Kehutanan dan Penebangan Kayu. Pada tahun 2017, kategori ini tumbuh sebesar 4,46 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2016 yang sebesar 6,25 persen.
Tabel 8
Peranan Subkategori terhadap Nilai Tambah Kategori Pertanian, Peternakan, Perburuan, dan Jasa Pertanian di Kabupaten Gresik (Persen), 2013-2017


Lapangan Usaha/Industry
2013
2014
2015
2016*
2017**






(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
1                            Pertanian, Peternakan, Perburuan dan Jasa

Pertanian/Agriculture, Livestock, Hunting and Agriculture

46,11

44,34

42,75

41,33

40,07

Services






a. Tanaman Pangan /Food Crops
52,53
52,65
52,48
51,55
51,13

b. Tanaman Hortikultura/Horticultural Crops
3,63
3,71
3,69
3,82
3,76

c. Tanaman Perkebunan/Plantation Crops
8,10
8,16
8,24
8,25
8,01

d. Peternakan/Livestock
34,34
34,03
34,09
34,82
35,58

e. Jasa Pertanian dan Perburuan/ Agriculture Services and
1,39
1,44
1,50
1,56
1,52

Hunting






2
Kehutanan dan Penebangan Kayu/ Forestry and Logging
0,04
0,04
0,04
0,03
0,03

3
Perikanan/Fishery
53,85
55,62
57,21
58,63
59,90







Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan/Agriculture, Forestry and
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
Fishing


2.8 Permasalahan Utama Kondisi Ekonomi Daerah dan Solusinya
1. Masalah Kependudukan
Besarnya industri di Gresik sangat menggiurkan bagi perantau-perantau dari daerah lain untuk mencari pekerjaan yang layak. Banyaknya pendatang ini selain akan menambah jumlah tenaga kerja di Gresik, mereka juga akan memperpadat wilayah Gresik. Penduduk yang terpusat di wilayah kota juga menjadi masalah bagi kabupaten Gresik, hal ini disebabkan oleh banyaknya kegiatan industri di wilayah kota dan tidak tersebar merata di seluruh wilayah Gresik.
Terpusatnya kegiatan industri di wilayah kota menyebabkan pembangunan di wilayah tersebut berkembang pesat, banyak infrastruktur mulai dari rumah sakit, sekolah, perumahan, dan lain-lain yang dibangun di daerah tersebut. Hal ini menyebabkan terbengkalainya pembangunan di daerah lain. Untungnya, pemerintah daerah telah menyadari hal tersebut dan berniat akan membangun kota satelit di kecamatan lain yang jauh dari wilayah kota. Kegiatan industri di Gresik terpusat di beberapa kecamatan, yakni kecamatan Gresik, Manyar, dan Kebomas. Dari 18 kecamatan, kegiatan industri besar hanya terpusat hanya di tiga kecamatan tersebut. Akses transportasi dan infrastruktur yang kurang memadai menyebabkan masyarakat enggan untuk tinggal di kecamatan-kecamatan yang hanya dijamah oleh industri kecil. Kalau bukan penduduk asli, mereka pasti tidak ada keinginan untuk tinggal di sana.
Infrastruktur yang kurang memadai juga menyebabkan ketertinggalan masyarakat, baik pendidikan maupun kesehatan mereka. Intinya, masalah kependudukan di kabupaten Gresik adalah tidak ratanya pertumbuhan penduduk antara kecamatan pusat yang memiliki industri besar dengan kecamatan-kecamatan lain.

2. Masalah Budaya
Banyaknya pendatang yang merantau ke Gresik sangat berandil besar dalam perubahan pola pikir masyarakat. Perubahan mendasar dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Selain masyarakat Gresik dapat memperluas wawasan mereka, perubahan tersebut juga menimbulkan dampak negatif, seperti banyaknya restoran cepat saji yang dibangun di kota ini. Masyarakat yang heterogen menyebabkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan dan kesehatan sedikit berkurang. Gaya hidup modern menyebabkan masyarakat yang tadinya merusak tubuhnya hanya dengan rokok saja, sekarang telah ditambah dengan mengonsumsi makanan yang tidak sehat.
Banyaknya pendatang juga merubah pola pikir dari hanya menggunakan sepeda atau angkutan kota, sekarang berubah menjadi kendaraan pribadi yang sama sekali tidak ramah terhadap lingkungan. Bukan lagi orang dewasa saja yang merokok tapi sekarang telah merambah di kalangan remaja, bahkan anak-anak dan balita. Pendatang yang bukan hanya dari luar kota, namun juga dari luar negeri menyebabkan remaja di Gresik sangat mudah terpengaruh sehingga terjerumus pada dunia yang suram.

3. Masalah Lingkungan
Banyaknya industri merupakan faktor penyebab paling dominan dalam munculnya pecemaran lingkungan. Banyak pabrik kurang memperhatikan lingkungan sekitarnya, mereka hanya memikirkan keuntungan, keuntungan, dan keuntungan dalam usahanya. Polusi ada dimana-mana, baik polusi udara, air, tanah, bahkan polusi suara. Tidak heran jika banyak masyarakat melakukan demonstrasi apabila terdapat pembangunan industri baru, industri yang lama berdiri saja masih menjadi sasaran demonstrasi. Daerah resapan air tanah telah berkurang sehingga warga tidakbisa lagi memiliki alternatif sumber air dan sangat bergantung pada PDAM.
Meskipun Gresik memiliki perusahaan pupuk terbesar di Indonesia, tidak dapat dipungkiri lagi tanah di Gresik telah tercemar oleh banyak zat kimia. Pupuk buatan, pestisida, dan bahan-bahan kimia lain telah menjadi konsumsi sehari-hari para petani di Gresik. Memang produk yang dihasilkan meningkat tajam, namun penggunaan yang berlebihan akan merusak alam. Banyak pabrik yang belum memiliki alat untuk mensterilkan limbah dan langsung membuangnya melalui air maupun udara, hal ini merupakan penyebab dari semua pencemaran yang telah terjadi di kota industri ini.

4. Masalah Kesehatan
Banyak penyakit yang mulai muncul akibat dari kegiatan industri, mulai dari penyakit pernapasan, kulit, reproduksi, hingga munculnya kanker. Penyakit yang paling banyak diderita warga akibat kegiatan industri adalah gangguan pernapasan. Pencemaran yang paling dominan di Gresik adalah pencemaran udara. Oleh sebab itu, banyak warga yang mengaku menderita sesak nafas hingga penyakit pernapasan kronis, seperti kanker paru-paru.
Penyakit kulit juga banyak mewabah akibat pecemaran lingkungan, khususnya pencemaran air. Selain disebabkan oleh pencemaran akibat industri, penyakit yang jarang muncul juga dapat diderita akibat gaya hidup masyarakat yang tidak lagi sehat. Pola hidup tidak sehat dapat memicu tumbuhnya kanker yang dapat membunuh kita sewaktu-waktu.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat dapat dilihat dari pola kegiatan ekonomi penduduk, penggunaan lahan dan pola pemukiman yang dilihat dari kondisi fisik dari permukaan bumi. Dalam rangka untuk ememnuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat atau penduduk berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanya masing-masing. Mata pencaharian dapat digolongkan menjadi dua berdasarkan tempat (desa dan kota) dan berdasarkan jenis pekerjaannya ( pertanian dan non pertanian).
Aktivitas ekonomi yang ada di Kabupaten Gresik sangatlah beragam baik dibidang pertanian, perindustrian, perdagangan, dan jasa. Petani merupakan pekerjaan utama dikarenakan Jawa merupakan wilayah dengan kondisi geografis yang berbasis agraris. Didesa aktivitas ekonomi yang dilakukan penduduk setempat adalah bertani karena banyak yang mengatakan bahwa pertanian itu identik dengan masyarakat desa. Memang benar adanya bahwa kegiatan ekonomi di bidang pertanian banyak dilakukan didesa seperti perdagangan dan perindustrian tapi yang sering dikenali hanyalah kegiatan ekonomi di bidang pertanian. Kehidupan penduduk dipedesaam dicerminkan oleh aktivitas dalam menggunakan lahan untuk emenuhi kebutuhan hidupnya dan selain itu kehidupan ekonomi yang ada di desa jiga bergantung pada potensi alam yang dimiliki desa tersebut.

3.2 Saran
Sebaiknya pemerintah Kabupaten Gresik lebih meningkatkan kemampuan tenaga kerja dan calon tenaga kerja agar memiliki keahlian sesuai dengan yang dispesifikan oleh sektor-sektor unggulan di Gresik dan Meningkatkan permberdayaan sektor-sektor unggulan dengan pemanfaatan lahan sesuai dengan peruntukkannya. Upaya ini guna juga untuk mengurangi angka pengangguran yang memicu pada angka kemiskinan masyarakat di Gresik.
DAFTAR PUSTAKA
https://gresikkab.bps.go.id
http://gresikkab.go.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar